Selasa, 20 Desember 2011

Upaya meningkatkan kebersihan sekolah melalui kerja bakti mingguan di SMP N 13 Purworejo

 BAB I
A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat penting untuk meningkatkan kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebersamaan agar dapat membangun diri sendiri dan juga besama-sama membangun bangsa. Disamping itu pendidikan merupakan masalah yang penting bagi manusia, karena pendidikan menyangkut kelangsungan hidup manusia. Melalui pendidikan juga dapat dikembangkan kemampuan pribadi, daya pikir dan tingkah laku yang lebih baik. Sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, yang menyebutkan bahwa : pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan darinya, bangsa, dan negara.
Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Pasal 3, “Tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”.
Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut dibutuhkan suatu kesatuan yang utuh dari faktor-faktor pendidikan seperti, faktor tujuan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan dan lingkungan (http://id.wikipedia.org/wiki/Dasar_Pendidikan). Faktor-faktor tersebut satu sama lain saling mempengaruhi dan tidak bisa berdiri sendiri. Namun demikian pada penelitian ini peneliti membatasi diri pada faktor lingkungan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Faktor lingkungan disini mencakup, tempat (lingkungan fisik), keadaan iklim, keadaan tanah (bangunan), keadaan alam, kebudayaan (lingkungan budaya), dengan warisan budaya tertentu bahasa, seni, ekonomi, ilmu pengetahuan, pandangan hidup, keagamaan, kelompok hidup bersama (lingkungan sosial atau masyarakat) keluarga, kelompok bermain, desa, perkumpulan (http://id.wikipedia.org/wiki/Dasar_Pendidikan).
Tapi peneliti tidak membahas semua itu hanya lebih ke masalah faktor tempat (lingkungan fisik) mengenai keadaan dan kelayakan bangunan sekolah yang meliputi kebersihan sekolah atau tempat proses belajar mengajar. Tanpa kebersihan tidak akan mampu menciptakan suasana yang nyaman untuk proses belajar mengajar, yang secara tidak langsung akan berimbas pada kualitas pembelajaran dan tidak terciptanya tujuan pendidikan tadi. Seperti kata (hdr, black community) didalam blognya dengan lingkungan sekolah yang bersih akan membuat para siswa merasa nyaman ketika proses belajar berlangsung.  Juga menurut Menurut Slameto (2003:54-72), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor internal (jasmani, psikologi dan kelelahan) dan ekternal yang mana faktor eksternal meliputi keluarga, masyarakat dan sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung/bangunan, metode belajar, tugas rumah).
Namun kebersihan inilah yang kerap di pandang sebelah mata oleh pihak sekolah-sekolah termasuk SMP N 13 Purworejo. Menurut data hasil observasi peneliti mengenai kultur sekolah di SMP N 13 Purworejo. Sekolah ini memiliki kultur yang negatif, yaitu dari banyak bangunan maupun ruang yang dilihat hanya beberapa yang tergolong bersih, dan selebihnya banyak yang kotor terutama sekali ruang kelas tempat proses belajar mengajar dan wc siswa. Selain itu fasilitas yang ada pada sekolah boleh dikatakan sangat kurang dan jauh dari cukup. Masih terdapatnya kekurangan-kekurangan seperti, genting sekolah yang akan runtuh, tembok sekolah yang penuh coretan sampai ada keadaan wc siswa yang sudah tidak bisa dipakai. Sehingga terlihat sekali dampak dari semua itu, yaitu banyaknya siswa yang merasa kurang nyaman dalam pembelajaran dan tidak betah berada di sekolah yang berimbas pada minimnya prestasi yang didapat sekolah tersebut baik dalam bidang akademik maupun non akademik.
Disini peneliti melihat salah satu persoalan yang menyebabkan tidak terciptanya tujuan pendidikan yang sesungguhnya yaitu berupa ketidak nyamanan baik si pendidik maupun peserta didik dalam belajar, melihat banyaknya upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kebersihan sekolah. Salah satunya melalui kerja bakti mingguan, yang mana dengan hal tersebut dapat meningkatakan kebersihan sekolah serta kenyamanan dalam belajar, selain itu juga mampu menjalin kerja sama baik antar guru, staff, karyawan serta semua siswa. Suasana kerja bakti penuh dengan kekeluargaan, tidak ada rasa saling iri atau bahkan merasa tertekan dengan beban kerja yang dilakukan, karena semuanya dilandasi dengan rasa senang dan penuh dengan suasana kekeluargaan (danangekonuryanto).
Mengingat begitu pentingnya kebersihan sekolah sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar serta masih kurangnya kebersihan di SMP N 13 Purworejo, maka peneliti memandang perlu untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul Upaya meningkatkan kebersihan sekolah melalui kerja bakti mingguan di SMP N 13 Purworejo”.

B.     IDENTIFIKASI MASALAH
Dari latar belakang di atas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
·         Banyaknya bangunan serta peralatan proses belajar mengajar yang kurang memadai atau kurang layak untuk dipakai.
·         Lingkungan sekolah yang kotor yang berakibat kurangnya minat siswa untuk betah di sekolah.
·         Kondisi lingkungan yang kurang terawat.

C.     BATASAN MASALAH
Dalam penelitian ini peniliti membatasi permasalahan pada upaya meningkatkan kebersihan sekolah melalui kerja bakti mingguan di SMP N 13 Purworejo.

D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka secara umum peneliti merumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah upaya meningkatkan kebersihan sekolah melalui kerja bakti mingguan di SMP N 13 Purworejo ?
2.      Apakah kerja bakti mingguan dapat meningkatkan kebersihan sekolah di SMP N 13 Purworejo ?

E.     Tujuan Penelitian
1.      Meningkatkan kebersihan sekolah melalui kerja bakti mingguan di SMP N 13 Purworejo.
2.      Mengetahui gambaran tentang kerja bakti mingguan dalam meningkatkan kebersihan sekolah di SMP N 13 Purworejo.



F.     Manfat Penelitian
1.      Manfaat Teoretis
Mengetahui upaya meningkatkan kebersihan sekolah melalui kerja bakti mingguan di SMP N 13 Purworejo.
2.      Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a. Bagi siswa
Dengan kerja bakti dan kebersihan sekolah dapat meningkatkan semangat belajar serta menjalin kerja sama baik (kekeluargaan) antar siswa, guru, staff, dan karyawan.
b. Bagi guru
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengalaman langsung pada guru-guru untuk dapat meningkatkan kebersihan sekolah serta dengan kebersihan sekolah dapat menimbulkan rasa nyaman dalam proses belajar mengajar sehingga meningkatkan semangat mengajar bagi guru.
c.       Bagi sekolah
Tidak lagi dipandang sebelah mata atau sekolah yang memiliki kultur negatif oleh sekolah lain maupun masyarakat.
a.       Peneliti selanjutnya
Dapat dijadikan data awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang relevan terhadap variabel-variabel yang belum tersentuh dalam penelitian ini.



BAB II
A.    KAJIAN PUSTAKA
1.      kebersihan
Kebersihan adalah keadaan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya, debu, sampah, dan bau (Wikipedia). Menurut pandangan agama, kebersihan itu adalah bagian dari iman. Karena dalam menjalankan suatu ibadah hendaklah dalam kedaan bersih dan suci. Jadi kebersihan adalah suatu keadaan yang mana baik diri kita sendiri maupun lingkungan terbebas dari segala macam kotoran.
Kebersihan dibagi menjadi dua macam yaitu kebersihan diri dan kebersihan lingkungan.
a.       Kebersihan diri bertujuan agar badan selalu sehat, tidak bau, tidak menyebarkan kotoran, atau menularkan kuman penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain. Kebersihan diri dapat dijaga seperti, mandi teratur, menyikat gigi, mencuci tangan, dan memakai pakaian yang bersih.
b.       Kebersihan lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat bekerja, sekolah, dan berbagai sarana umum. Kebersihan tempat tinggal dapat juga dijaga dengan cara melap jendela dan perabot rumah tangga, menyapu dan mengepel lantai, mencuci peralatan masak dan peralatan makan, membersihkan kamar mandi dan jamban, serta membuang sampah. Kebersihan lingkungan dimulai dari menjaga kebersihan halaman dan selokan, dan membersihkan jalan di depan rumah dari sampah.

2.      kebersihan sekolah
 Salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar adalah mengenai masalah keadaan lingkungan sekolah, yang meliputi tersedianya sarana-prasarana secara memadai, serta penggunaanya sesuai dengan fungsinya dan kebersihan sekolah yang mencakup bangunan sekolah, halaman, dan ruang-ruang kelas.
Edward Sallis dalam bukunya menjelaskan bahwa ada dua hal yang diperlukan untuk menghasilkan mutu pendidikan, yaitu:
a.       Membutuhkan lingkungan yang cocok dan bersih. Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kemampuan siswa dalam mengerjakan pekerjaan (pembelajaran) secara efektif.
b.      Membutuhkan lingkungan yang mendukung dan menghargai. Mereka (siswa) memerlukan pemimpin (kepala sekolah dan guru) yang menghargai prestasi mereka, akan mereka semakin percaya diri dan termotivasi untuk lebih baik.
Sebuah sekolah seringkali mengalami permasalah tentang kebersihan. Padahal semua tahu bahwa kebersihan itu merupakan kunci utama untuk membuat kenyamanan, dan dengan rasa nyamanlah dapat mendorong semangat siswa untuk belajar. Lingkungan sekolah yang bersih akan membuat para siswa merasa nyaman ketika proses belajar berlangsung (hdr, black community).

3.      CIRI-CIRI SEKOLAH BERSIH
Adapu ciri-ciri lingkungan sekolah yang dikatakan bersih dan memadai seperti :
·         Tidak becek.
·         Bebeas dari sampah yang berserakan.
·         Kondisi gedung dan sarana prasarana pembelajaran bebas dari coretan.
·         Memiliki banyak pohon pelindung.
·         Tetap terpelihara dalam berbagai cuaca.
·         Tersedia air yang memenuhi syarat kesehatan dengan cukup.
·         Serta terhindar dari pencemaran (polusi) lingkungan.
Lingkungan sekolah yang kurang bersih biasanya disebabkan oleh para siswa maupun guru dan karyawan yang membuang sampah sembarangan serta sikap yang acuh terhadap lingkungannya. Dan ini juga terjadi di SMP N 13 Purworejo, bahkan lebih parah.

4.      PENGARUH/DAMPAK KEBERSIHAN SEKOLAH
Kebersihan sekolah menjdi sangat penting mengingat pengaruhnya terhadap kenyamanan untuk proses belajar mengajar berlangsung. Tanpa adanya kebersihan yang baik akan menimbulkan dampak sebagai berikut :
a.       Timbulnya kemalasan siswa maupun guru dalam proses belajar mengajar.
b.      Tidak betah berada di sekolah.
c.       Mendapatkan sindiran yang negtif dari masyarakat, seperti tidak berminat menyekolahkan anak atau saudara mereka di sekolah tersebut.
d.      Dapat mendatangkan penyakit bagi siswa, guru dan semua warga sekolah.
e.       Karena timbulnya kemalasan belajar siswa dan guru, tentu prestasi sekolah semakin buruk.
Jadi kebersihan sekolah sangat berperan penting dalam mencapai tujuan pendidikan.

5.      KERJA BAKTI
Kerja bakti adalah kerja bersama-sama tanpa upah (untuk kepentingan bersama), kerja tanpa imbalan jasa (Ihsan abbas sofyan). Menurut Funny funnis kerja bakti adalah kerja yang dilakukan secara bersama-sama tanpa menharap suatu imbalan yang nanti hasilnya akan di nikmati bersama-sama.
Jadi kerja bakti adalah sekelompok orang melakukan kerja bersama-sama untuk tujuan tertentu dalam waktu yang bersamaan yang nanti hasilnya akan dinikmati bersama-sama. Kerja bakti juga sering disebut dengan gotong royong.
  Suasana kerja bakti hendaknya penuh dengan kekeluargaan. Tidak ada rasa saling iri atau bahkan merasa tertekan dengan beban kerja yang dilakukan, karena semuanya dilandasi dengan rasa senang dan penuh dengan suasana kekeluargaan.

6.      KERJA BAKTI DI SEKOLAH
Salah satu solusi yang tepat mengenai permasalahan ketidakbersihan sekolah adalah dengan kerja bakti mingguan, selain untuk membersihkan sekolah kerja bakti juga dapat melatih siswa untuk bertanggung jawab, bekerja sama, dan berdisiplin. Rasa lelah yang dirasakan oleh para siswa akan menjadi sebuah pelajaran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Mereka akan berpikir ulang jika ingin membuang sampah sembarangan karena mereka juga merasakan betapa lelahnya membersihkan sampah-sampah yang berserakan.
Kerjabakti membersihkan halaman sekolah dan lingkungannya bisa dilaksanakan secara berkala bisa sebulan sekali maupun melihat situasi dan kondisi selama tidak mengganggu proses belajar mengajar. Dan disini peniliti menyarankan solusi dengan satu kali dalam seminggu karena selain untuk membersihkan sekolah juga bermanfaat dalam menjalin kerja sama antar warga sekolah. Bahkan akan lebih bagus bila sewaktu kerja bakti diputarkan musik yang sesuai dengan kondisi dan umur mereka sehingga bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan.
7.      MANFAAT KERJA BAKTI DI SEKOLAH
Dengan diadakanya kerja bakti di sekolah maka manfaat yang akan didapat yaitu:
a.       Akan tertanaman dalam diri peserta didik untuk mencintai sekolah dan lingkunganya sekaligus mendidik mereka bekerja mandiri. Mungkin ada sebagian siswa  yang manja yang mana dikarenakan kebiasaan dirumah serba dilayani baik oleh orang tua maupun pembantu maka dengan kegiatan ini akan “dipaksa” untuk mandiri.
b.      Selain itu kerja bakti akan menghilangkan kejenuhan di dalam kelas, dari pagi sampai siang bahkan sore maka kejenuhan akan dirasakan oleh anak didik. Dengan kerja bakti membersihkan halaman sekolah akan menghilangkan kejenuhan tersebut dan bisa dijadikan refresing.
c.       Untuk lebih mengakrabkan bapak ibu guru dengan anak didiknya. Sebaiknya sewaktu kerja bakti para pendidik hendaknya berbaur dengan anak didik sehingga menimbulkan keakraban antara siswa dan guru.
d.      Terjalin kerja sama dan lebih mengakrabkan antar sesama siswa, baik yang satu angkatan juga dengan angkatan-angkatan lain.
e.       Manfaat lainnya dari kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah adalah lingkungan menjadi bersih  dan lebih terawat dibandingkan dengan tidak ada kerja bakti tersebut.

B.     KERANGKA BERPIKIR
Selama ini masih banyak terdapat sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta yang menomor duakan masalah lingkungan atau kulur sekolah. Terlihat dari masih banyaknya terdapat sekolah-sekolah dengan bangunan yang tidak bersih termasuk SMP N 13 Purworejo. Dan ini berdampak langsung terhadap semangat belajar siswa di sekolah.
Kerja bakti mingguan merupakan salah satu solusi untuk menangani masalah tersebut, yang mana pihak sekolah bisa menfaatkan sedikit waktu untuk membersihkan sekolah bersama-sama. Kerja bakti ini diharapkan selain untuk menjaga kebersihan sekolah dan meningkatkan semangat belajar siswa di sekolah juga melatih kemandirian siswa serta menjalin keakraban antar sesama warga sekolah.

C.     HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis tidakan pada penelitian ini adalah :
1.      Program kerja bakti diawali dengan melakukan pemilihan hari pelaksanaan program pertama dengan persetujuan pihak sekolah sebelumnya. Kemudian dilanjutkan setiap hari sabtu setelah jam pelajaran selesai (menjelang pulang) sekitar jam satu sampai jam tiga.
2.      Dengan melaksanakan program kerja bakti dapat meningkatkan kebersihan sekolah dan meningkatkan minat belajar siswa di sekolah.









bab iii
A.    METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action riset) yang dilakukan secara kolaboratif dan partisipatif. Artinya peneliti tidak melakukan penelitian sendirian namun berkolaborasi dengan beberapa orang guru, penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan kebersihan sekolah.

B.     SETTING PENELITIAN
Penelitian dilakukan di sekolah SMPN 13 Purworejo. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa dan guru yang ikut bergotong royong.

C.     RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan model spiral dari Kemmis dan Taggart yang dikembangkan oleh Stephen dan Robic Mc Taggart yang dikutip oleh Sukardi (2004: 214) yang terdiri dari dua siklus dan masing-masing siklus menggunakan empat komponen tindakan yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi dalam suatu spiral yang saling terkait.

1.      Siklus I
a.         Planning (perencanaan)
1)   Menentukan kolaborator sebagai berikut:
·      Kepala sekolah.
·      Guru mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan.
·      Komite sekolah dan orang tua.
·      Siswa.
2)   Menyusun peraturan pelaksanaan kerja bakti yaitu:
a)    Menentukan pembagian wilayah-wilayah pembersihan antar kelas.
b)   Menentukan alat-alat yang disediakan oleh sekolah, serta meminta para siswa membawa peralatan tambahan selain disediakan pihak sekolah untuk kebersihan.
·      Alat dari sekolah : cangkul, parang, tempat sampah, dll.
·      Alat dari siswa : Koran bekas, ember kecil, dll.
c)    Menentukan hari, waktu, tempat dalam pelaksanaan kerja bakti, yaitu sekali dalam seminggu pada  hari sabtu, setelah jam belajar selesai atau sebelum pulang, 13.00 WIB dengan durasi 2-3 jam.
·      Hari             : setiap Sabtu
·      Pukul           : 13.00-15.00 WIB
·      Tempat        : SMPN 13 Purworejo
d)   Membuat daftar sanksi bagi pelanggar.
3)   Menyusun dan mempersiapkan lembar observasi penelitian.
4)   Menyusun dan mempersiapkan pedoman wawancara.
5)   Mempersiapkan alat dokumentasi berupa camera digital.

b.      Acting (tindakan)
Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan panduan perencanaan yang telah dibuat dan dalam pelaksanaannya bersifat fleksibel dan terbuka terhadap perubahan-perubahan.
1)        Langkah awal adalah meminta izin kepada kepala sekolah untuk melakukan rencana penelitian terhadap sekolah yang dipimpinnya sekaligus menerangkan masalah yang akan diangkat dan konsep gagasan yang akan dibuat. Dalam hal ini tentang upaya meningkatkan kebersihan sekolah melalui kerja bakti mingguan.
2)        Mendiskusikan serta meminta bantuan guru pendidikan jasmani dan kesehatan untuk menerangkan tentang kebersihan serta pengaruh dan manfaatnya kepada siswa dikelas.
3)        Meminta bantuan kepala sekolah untuk  mendiskusikan ide kerja bakti bersama komite sekolah dan orangtua siswa.
4)        Mensosialisasikan kerja bakti dengan peraturan-peraturan yang telah disepakati bersama.
5)        Peneliti melakukan pengamatan selama program kerja bakti berlangsung.

c.       Observing (pengamatan)
Observasi dilaksanakan selama proses pelaksanaan program berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Observasi ini dilakukan oleh peneliti dibantu oleh para kolaborator, kecuali siswa.

d.      Reflecting (refleksi)
Data yang diperoleh pada lembar observasi akan dianalisis, kemudian akan dilakukan refleksi. Pelaksanaan ini akan dilakukan dalam bentuk diskusi antara peneliti dan kolaborator, kecuali siswa. Diskusi dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilakukan dengan cara melakukan penilaian terhadap proses pelaksanaan program, masalah yang muncul, dan segala hal yang berkaitan dengan tindakan yang dilakukan. Setelah itu akan dicari jalan keluar terhadap masalah-masalah yang mungkin timbul agar dapat dibuat rencana perbaikan pada siklus dua.
2.      Siklus II
a.         Persiapan Tindakan
Persiapan yang dilakukan pada silkus II ini memperhatikan hasil refleksi dari siklus I. Persiapan ini meliputi:
·         Membuat peraturan pelaksanaan program;
·         Mempersiapakan lembar observasi;
·         Mempersiapkan pedoman wawancara;
·         Mempersiapakan alat dokumentasi berupa camera digital.
b.         Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II pada dasarnya sama seperti siklus I dimana siswa masih melaksanakan program kerja bakti dan diamati oleh peneliti.
c.         Observasi
Observasi dilakukan oleh peneliti dibantu oleh para kolaborator kecuali siswa, dengan berpedoman pada lembar observasi. Lembar observasi yang digunakan sama seperti pada lembar observasi pada siklus I. Setelah itu dilakukan wawancara pada siswa.
d.        Refleksi
Refleksi yang dilakukan pada siklus II digunakan untuk membedakan hasil siklus I dengan siklus II apakah terdapat peningkatan kebersihan sekolah. Jika belum terdapat peningkatan, maka siklus dapar diulang kembali.



D.    TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, metode wawancara, metode dokumentasi, angket dan tes.
1.      Observasi
Observasi dipakai untuk mendapatkan data tentang kegiatan gotong royong, minat dan semangat siswa terhadap kebersihan sekolah.
2.      Teknik wawancara
Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang kepuasan mereka terhadap tindakan peneliti,  dan untuk mengetahui sejauh mana partisipasi siswa dan guru terhadap kebersihan sekolah.
3.      Dokumentasi
Dokumentasi digunakan selain untuk mendokumentasikan penelitian tindakan yang sedang berlangsung juga untuk mengetahui siswa mana yang ikut kerja bakti dengan penuh semangat.

E.     INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, pedoman wawancara, dan alat dokumentasi (camera digital).
F.      TEKNIK ANALISIS DATA
Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa lembar observasi saat proses pelaksanaan program kerja bakti, hasil wawancara yang dilaksanakan pada siswa dan hasil dokumentasi pada saat program kerja bakti berlangsung.
·         Analisis data observasi;
·         Analisis hasil wawancara;
·         Analisis hasil dokumentasi.
G.    INDIKATOR KEBERHASILAN
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah:
1.      Meningkatnya kebersihan di sekolah SMPN 13 Purworejo.
2.      Meningkatnya semangat belajar siswa di sekolah.
3.      Terciptanya proses belajar mengajar yang lebih kondusif.















LAMPIRAN

A.    PEDOMAN WAWANCARA
1.      Kepala sekolah :
·         Bagaimana pendapat Bapak tentang pelaksanaan kerja bakti mingguan?
·         Apakah Bapak mengamati pelaksanaan kerja bakti tersebut?
·         Kegiatan apa saja selama ini yang pernah dilakukan untuk menjaga kebersihan sekolah?
·         Apakah setelah melakukan kerja bakti semua warga sekolah berusaha tetap mempertahankan kebersihan sekolah?

2.      Guru mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan sebagai kolaborator :
·         Berapa banyak siswa, karyawan dan guru yang berpartisipasi aktif dalam kerja bakti?
·         Seberapa semangat para siswa, karyawan dan guru dengan kegiatan kerja bakti?
·         Adakah hambatan atau kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan kerja bakti?
·         Apakah setelah melakukan kerja bakti kebersihan sekolah meningkat? Bila iya berapa besar peningkatan tersebut?

3.      Siswa :
·         Bagaimana pendapat Anda tentang adanya kerja bakti mingguan di sekolah?
·         Adakah hambatan dalam mengikuti kerja bakti tersebut?
·         Sejauh mana upaya Anda selamana ini menjaga kebersihan sekolah?

B.     PEDOMAN OBSERVASI
Dalam observasi akan dilihat tentang:
1.      Pelaksanaan kerja bakti.
2.      Peralatan yang digunakan.
3.      Data kebersihan sebelum kegiata kerja bakti.
4.      Data kebersihan sesudah pelaksanaan kerja bakti.
5.      Setting pelaksanaan kerja bakti.
6.      Semangat dan keseriusan para pelaksana kerja bakti.














DAFTAR PUSTAKA :
·         Sallis, Edward. 2010. Manajemen mutu terpadu pendidikan. Yogyakartan: IRCiSoD
·         Asmani, Jamal Makmur. 2011. Penelitian pendidikan. Yogyakarta: DIVA press
·         Plummer, Ken. 2011. Sosiologi the basics. Jakarta: RajaGravindo Persada
·         Tim Pudi Dikdasmen Lemlit UNY. 2009. Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research) –buku panduan. UNY
·         Standar lembaga pendidikan tenaga kependidikan. 1982. Yogyakarta
·         Di unduh pada tanggal 28 November 2011 di :
·         Di unduh pada tanggal 16 Desember 2011 di :


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar